Ketika Mahasiswa menggaungkan diri sebagai sebuah Icon perubahan, maka sudah selayaknya mahasiswa merealisasikannya dalam sebuah perjuangan, baik pada tataran akademis maupun pada tataran praktis. Di sadari ataupun tidak hari ini ketika kita berbicara masalah seorang ‘pejuang mahaiswa’ yang kemudian kita sebut sebagai aktifis, maka yang muncul pada benak masyarakat adalah sebuah sindrom ‘Phobia terhadap aktifis’, hal ini diakibatkan karena ulah segelintir aktifis yang sebenarnya tidak memahami hakikat dari perjuangan mahasiswa itu sesungguhnya.
Aktifis dicitrakan sebagai orang yang sangat Aktif, namun sayang karena keaktifannya itulah yang menyebabkan perhatiannya terhadap masyarakat menjadi tipis. Selain itu juga aktifis senantiasa di identikkan dengan kuliah yang lama, pakaian yang asal-asalan, cenderung frontal, dan dan lapangan pekerjaan yang tidak jelas. Sehingga muncul lah sindrom rendah diri yang menjangkiti para mahasiswa untuk menerima gelar sebagai seorang aktifis.
Anggapan miring tentang seorang aktifis kian menjadi, ini masih dikarenakan oleh segelintir aktifis karbitan, hal ini dapat dilihat dari kegiatan demonstrasi yang mereka lakukan. Mereka menggaungkan perjuangan atas nama rakyat, namun pelaksanaannya nihil, mereka cendrung melakukan aksi demonstrasi yang tidak layak dikatakan sebagai sebuah perjuangan mahasiswa seperti mengganggu ketertiban umum, anarkis, mengeluarkan kata kata kotor dalam tiap aksi yang mereka lakukan, bahkan tidak jarang mereka melakukan aksi demonstrasi tanpa mengantongi surat izin.
Inilah sebenarnya tugas besar para rekan rekanku sesama aktifis, untuk kita kembalikan citra mulia seorang aktifis, sehingga Aktifis bukanlah hanya sekedar aktifis, namun aktifis adalah seorang yang karena keaktifannya dapat menepis semua anggapan miring tersebut. Dan kembali membuktikan kepada masyarakat bahwa aktifis adalah para pejuang suci.
Saya pernah mengikuti aksi demonstrasi, baik dengan jumlah massa puluhan, ratusan, bahkan ribuan, namun kami dapat buktikan kepada masyarakat bahwa aksi kami adalah benar benar aksi damai, aksi simpatik, dan aksi yang santun. Itu semua tidak akan bisa lepas dari Management aksi yang dikelola secara professional, bukan sekedar aksi jalanan ‘Show of Force’ saja tapi benar benar memperjuangkan kepentingan rakyat.
Inilah sebenarnya yang kita inginkan sebuah perjuangan yang penuh dengan sopan santun, meminimalisir cacian masyarakat. Jangan sampai kita menjadikan masyarakat sebagai rival perjuangan kita, karena sesungguhnya masyarakat adalah rekanan kita dalam perjuangan. Antara mahasiswa dan masyarakat ibarat dua sisi mata uang, dimana antara satu dengan yang lain tidak akan mungkin dapat terpisahkan. Kita sebagai seorang aktifis adalah sebuah pengejawantahan nyata dari masyarakat, dan masyarakat adalah obyek perjuangan dan penerapan disiplin ilmu yang kita terima pada tataran akademis.
Inilah yang menjadi perbedaan mendasar antara aktifis pergerakan dengan para ‘aktifis Apatis’, yang acap kali enggan memperdulikan kelangsungan bangsa ini, ketika rekan rekan seusia kita tengah ramai ramai ‘berjingkrak jingkrak’ dipanggung pertunjukan musik, namun kita tidak akan kalah gagahnya berjingkrak di atas jalan raya, ditemani terik mentari, yang insya Allah akan menjadi saksi perjuangan kita. Dan yakinlah saudaraku.. bahwa apa yang kita lakukan untuk kemajuan bersama akan mempunyai nilai yang lebih tinggi dimata Allah.
Untuk itu saya menghimbau kepada rekan rekanku sesama aktifis.. ayo kita rapatkan barisan, kita galang kekuatan, kembali sucikan niat dalam perjuangan ini, sesungguhnya kita adalah elemen penting dalam peletakan batu bata peradaban bangsa ini.
Ingatlah ketika Mahasiswa dalam mengusung Reformasi tahun 1998, mereka bisa bersatu, entah itu aktifis kiri maupun kanan. Lalu apa yang menyebabkan kita sekarang dalam agenda mengawal pelaksanaan reformasi enggan untuk bersatu…? Atau apakah perlu adanya reformasi jilid 2 yang kemudian dapat mempersatukan perjuangan kita kembali…?
Perjuangan panjang kita bukan hanya identik dengan sebuah aksi demonstrasi saja yang kemudian menghasilkan orasi jalanan, namun sesungguhnya perjuangan kita lebih dari itu. Demonstrasi hanyalah satu cara dari sekian banyak cara yang ada untuk merealisasikan perjuangan ini. Mari kita renungi kembali syair perjuangan kita…!
Kepada para Mahasiswa…!
Yang merindukan kejayaan
Kepada rakyat yang kebingungan…!
Di persimpangan jalan
Kepada pewaris peradaban…!
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Di lembar sejarah manuia
Wahai kalian yang rindu kemenangan…!
Wahai kalian yang turun kejalan…!
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta
Reformasi 3x sampai mati…!
Ya.. begitu besar dan panjangnya perjuangan kita, sehingga menuntut sebuah kebulatan tekad dan kesungguhan didalamnya. Mahasiswa sejati adalah mereka yang senantiasa mendambakan akan lahirnya sebuah kejayaan, serta yang memperjuangkan sebuah kemenangan, mereka hadir pada masyarakat dengan membawa solusi terhadap segala permasalahan yang ada, dan bukan untuk menambah rentetan permasalahan.
Para pembenci keadilan boleh saja mengatakan bahwa perjuangan kita sudah mati, namun ingatlah saudaraku, sesungguhnya semangat ini tidak akan pernah padam. Selama masih ada Batu bata, air yang mengalir, selama masih ada pohon yang melambai, angin yang berhembus, maka selama itulah semangat perjuangan ini akan tetap dikumandangkan.
Mungkin semua unsur tadi (Batu bata, air, pohon,) kalau berdiri sendiri akan menjadi unsur yang tidak bernilai. Namun ingatlah, ketika semua unsure itu bersinergi menjadi satu maka akan menghasilkan sebuah bangunan yang kokoh. Ya.. sebuah bangunan yang kokoh, itulah bangunan yang bernama Indonesia. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah siapakah arsitek yang akan mempersatukan semua unsure tadi…? Jawabannya ada pada benak kita semua..
Sesungguhnya perjuangan ini tidak akan mampu untuk diusung oleh segelintir orang, apalagi oleh mereka yang seolah-olah berkerumun tidak beraturan. Ibarat buih di pantai, yang sekali di hempaskan oleh gelombang, akan hilang lenyap didalam pepasir. Jangan sampai pergerakan ini di bungkam…!
Aku....Nothing much but we'll see we are special anyway...
"Kalian adalah umat terbaik sepanjang masa..(karena) di ridhoi oleh ALLAH yang maha perkasa.."
Blog ini kupersembahkan buat dakwah, buat pecinta silaturrahim dan yang demen baca n nulis...
Soalnya bukan hal aneh ada loo orang yang males banget baca..hehe malah buat baca pengumuman aja ogah...duwh...kasian dong para penebar pamflet yang mo bagi2 info..hehe
emang masi banyak banget kekurangannya nih...
tapi kalo g kotor (baca: salah) ya ngga belajar..
OK..Hope U all like it :)
cool berkata
Allah itu indah, Dia mencintai keindahan
yuan berkata
allow my litle angel u’r zo cute hehehehehe……up!!!
RIO RAMABASKARA berkata
Ketika Mahasiswa menggaungkan diri sebagai sebuah Icon perubahan, maka sudah selayaknya mahasiswa merealisasikannya dalam sebuah perjuangan, baik pada tataran akademis maupun pada tataran praktis. Di sadari ataupun tidak hari ini ketika kita berbicara masalah seorang ‘pejuang mahaiswa’ yang kemudian kita sebut sebagai aktifis, maka yang muncul pada benak masyarakat adalah sebuah sindrom ‘Phobia terhadap aktifis’, hal ini diakibatkan karena ulah segelintir aktifis yang sebenarnya tidak memahami hakikat dari perjuangan mahasiswa itu sesungguhnya.
Aktifis dicitrakan sebagai orang yang sangat Aktif, namun sayang karena keaktifannya itulah yang menyebabkan perhatiannya terhadap masyarakat menjadi tipis. Selain itu juga aktifis senantiasa di identikkan dengan kuliah yang lama, pakaian yang asal-asalan, cenderung frontal, dan dan lapangan pekerjaan yang tidak jelas. Sehingga muncul lah sindrom rendah diri yang menjangkiti para mahasiswa untuk menerima gelar sebagai seorang aktifis.
Anggapan miring tentang seorang aktifis kian menjadi, ini masih dikarenakan oleh segelintir aktifis karbitan, hal ini dapat dilihat dari kegiatan demonstrasi yang mereka lakukan. Mereka menggaungkan perjuangan atas nama rakyat, namun pelaksanaannya nihil, mereka cendrung melakukan aksi demonstrasi yang tidak layak dikatakan sebagai sebuah perjuangan mahasiswa seperti mengganggu ketertiban umum, anarkis, mengeluarkan kata kata kotor dalam tiap aksi yang mereka lakukan, bahkan tidak jarang mereka melakukan aksi demonstrasi tanpa mengantongi surat izin.
Inilah sebenarnya tugas besar para rekan rekanku sesama aktifis, untuk kita kembalikan citra mulia seorang aktifis, sehingga Aktifis bukanlah hanya sekedar aktifis, namun aktifis adalah seorang yang karena keaktifannya dapat menepis semua anggapan miring tersebut. Dan kembali membuktikan kepada masyarakat bahwa aktifis adalah para pejuang suci.
Saya pernah mengikuti aksi demonstrasi, baik dengan jumlah massa puluhan, ratusan, bahkan ribuan, namun kami dapat buktikan kepada masyarakat bahwa aksi kami adalah benar benar aksi damai, aksi simpatik, dan aksi yang santun. Itu semua tidak akan bisa lepas dari Management aksi yang dikelola secara professional, bukan sekedar aksi jalanan ‘Show of Force’ saja tapi benar benar memperjuangkan kepentingan rakyat.
Inilah sebenarnya yang kita inginkan sebuah perjuangan yang penuh dengan sopan santun, meminimalisir cacian masyarakat. Jangan sampai kita menjadikan masyarakat sebagai rival perjuangan kita, karena sesungguhnya masyarakat adalah rekanan kita dalam perjuangan. Antara mahasiswa dan masyarakat ibarat dua sisi mata uang, dimana antara satu dengan yang lain tidak akan mungkin dapat terpisahkan. Kita sebagai seorang aktifis adalah sebuah pengejawantahan nyata dari masyarakat, dan masyarakat adalah obyek perjuangan dan penerapan disiplin ilmu yang kita terima pada tataran akademis.
Inilah yang menjadi perbedaan mendasar antara aktifis pergerakan dengan para ‘aktifis Apatis’, yang acap kali enggan memperdulikan kelangsungan bangsa ini, ketika rekan rekan seusia kita tengah ramai ramai ‘berjingkrak jingkrak’ dipanggung pertunjukan musik, namun kita tidak akan kalah gagahnya berjingkrak di atas jalan raya, ditemani terik mentari, yang insya Allah akan menjadi saksi perjuangan kita. Dan yakinlah saudaraku.. bahwa apa yang kita lakukan untuk kemajuan bersama akan mempunyai nilai yang lebih tinggi dimata Allah.
Untuk itu saya menghimbau kepada rekan rekanku sesama aktifis.. ayo kita rapatkan barisan, kita galang kekuatan, kembali sucikan niat dalam perjuangan ini, sesungguhnya kita adalah elemen penting dalam peletakan batu bata peradaban bangsa ini.
Ingatlah ketika Mahasiswa dalam mengusung Reformasi tahun 1998, mereka bisa bersatu, entah itu aktifis kiri maupun kanan. Lalu apa yang menyebabkan kita sekarang dalam agenda mengawal pelaksanaan reformasi enggan untuk bersatu…? Atau apakah perlu adanya reformasi jilid 2 yang kemudian dapat mempersatukan perjuangan kita kembali…?
Perjuangan panjang kita bukan hanya identik dengan sebuah aksi demonstrasi saja yang kemudian menghasilkan orasi jalanan, namun sesungguhnya perjuangan kita lebih dari itu. Demonstrasi hanyalah satu cara dari sekian banyak cara yang ada untuk merealisasikan perjuangan ini. Mari kita renungi kembali syair perjuangan kita…!
Kepada para Mahasiswa…!
Yang merindukan kejayaan
Kepada rakyat yang kebingungan…!
Di persimpangan jalan
Kepada pewaris peradaban…!
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Di lembar sejarah manuia
Wahai kalian yang rindu kemenangan…!
Wahai kalian yang turun kejalan…!
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta
Reformasi 3x sampai mati…!
Ya.. begitu besar dan panjangnya perjuangan kita, sehingga menuntut sebuah kebulatan tekad dan kesungguhan didalamnya. Mahasiswa sejati adalah mereka yang senantiasa mendambakan akan lahirnya sebuah kejayaan, serta yang memperjuangkan sebuah kemenangan, mereka hadir pada masyarakat dengan membawa solusi terhadap segala permasalahan yang ada, dan bukan untuk menambah rentetan permasalahan.
Para pembenci keadilan boleh saja mengatakan bahwa perjuangan kita sudah mati, namun ingatlah saudaraku, sesungguhnya semangat ini tidak akan pernah padam. Selama masih ada Batu bata, air yang mengalir, selama masih ada pohon yang melambai, angin yang berhembus, maka selama itulah semangat perjuangan ini akan tetap dikumandangkan.
Mungkin semua unsur tadi (Batu bata, air, pohon,) kalau berdiri sendiri akan menjadi unsur yang tidak bernilai. Namun ingatlah, ketika semua unsure itu bersinergi menjadi satu maka akan menghasilkan sebuah bangunan yang kokoh. Ya.. sebuah bangunan yang kokoh, itulah bangunan yang bernama Indonesia. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah siapakah arsitek yang akan mempersatukan semua unsure tadi…? Jawabannya ada pada benak kita semua..
Sesungguhnya perjuangan ini tidak akan mampu untuk diusung oleh segelintir orang, apalagi oleh mereka yang seolah-olah berkerumun tidak beraturan. Ibarat buih di pantai, yang sekali di hempaskan oleh gelombang, akan hilang lenyap didalam pepasir. Jangan sampai pergerakan ini di bungkam…!
Bangkitlah saudaraku.. satukan langkah, Teriakkan suara-suara keadilan, solidkan pergerakan untuk menuntaskan perubahan…!!!