Menarik Gamis Malaikat

Subuh menjelang lagi.Aku bangun dari kasur tipisku dengan mata yang masih menyipit.Pelan-pelan aku bangkit dan membangunkan adik semata wayangku,Angga yang tampak masih nyenyak berselimutkan sarung tipisnya yang sudah robek.
“Angga..bangun.”aku menepuk dengan lembut pipinya.Angga menggeliat untuk beberapa saat.
Setelah yakin dia akan bangun,aku bergegas menuju belakang rumah mengambil air wudhu.Udara dingin menusuk kulit.Sayup-sayup suara binatang-binatang pagi mulai datang dan lenyap silih berganti.Seperti biasa,aku menunaikan kewajibanku mengumandangkan Adzan di surau kampung kami.Angga membuntutiku dari belakang.Aku tahu dia masih mengantuk.
Beberapa orang sudah berkumpul menunggu waktu subuh tiba.Akupun mengumandangkan adzan mengajak orang-orang sekitar untuk segera bangun menunaikan kewajiban sholat.
Begitulah keseharianku bersama Angga dalam menyambut hari-hari kami.
“Mandilah dulu,Angga.Abang sudah menimba air tadi.Kalau kau tidak cepat,bisa-bisa antri nanti.”aku mengingatkan Angga untuk segera bergegas menuju kamar mandi
umum di kampung kami.Kami memang belum memiliki kamar mandi sendiri.Rumah petak kecil yang aku tinggali dengan Angga,hanya terdiri dari dua ruangan.Ruang tempat kami tidur,yang sesekali kami jadikan pula sebagai ruang tamu,dan sebuah dapur yang cukup sempit. Antara keduanya hanya dibatasi sebuah lemari tua tempat aku dan Angga menyimpan beberapa lembar pakaian dan juga buku-buku pelajaran Angga dan kuliahku.Begitulah hidup prihatin yang aku jalani bersama Angga sejak dua tahun yang lalu Ibu dan Bapak meninggal dalam kecelakaan kereta api.Kini hanya Angga satu-satunya amanah yang harus aku jaga.
Sementara Angga mandi,aku menyalakan kompor yang minyak tanahnya sudah hampir kering.Kuperiksa lagi kantong yang bergantung di dinding dapur.Sudah tidak ada sebungkus miepun.Telur juga tidak.Biasanya Angga senang sekali bisa makan pagi dengan Indomie dan telur.Mau tak mau aku memasak sedikit bubur untuknya.Cukup dimakan dengan kecap.
Otakku berpikir keras lagi.Uang di dompetku sudah betul-betul menipis.Kalau begini terus-menerus,bisa-bisa aku tidak bisa membiayai keperluan sekolah Angga dan kuliahku sendiri.Harga-harga semakin melambung tinggi seiring naiknya harga BBM. Aku tersenyum getir.Sudah beberapa kali aku dan rekan-rekan Mahasiswa menyuarakan aksi protes mengenai kenaikan BBM.Sungguh,kebijakan pemerintah ini betul-betul mencekik rakyat miskin seperti kami.Dana subsidi BBM tidak sepeserpun kami nikmati.
Jadi apa gunanya pemerintah bersikeras menaikkan harga BBM?
Selama ini aku berusaha menambah-nambah biaya hidup dengan membantu Rio, teman kampusku yang membuka usaha rental komputer.Mungkin tak seberapa yang kudapat,tapi setidaknya bisa menambah-nambah uang beasiswa yang kuterima dari kampus.Dua kali dalam seminggu aku diminta mengajar privat bahasa Inggris seorang anak dari salah satu dosen kampusku.Begitulah aku membiayai hidup kami selama ini. Gampang-gampang susah.
“Bang..Angga sudah mandi.”Angga melapor dan memberi kode agar aku segera bergegas pula ke kamar mandi umum.Masih sangat pagi.Langit saja masih sedikit gelap. Tapi daripada nanti antri dan aku terlambat,lebih baik aku mandi dengan segera.
Aku meraih handukku dan segera menuju kamar mandi umum.Udara pagi masih menyisakan rasa dingin yang menusuk tulang.Tapi cukup menyegarkan.

Saat sudah hendak akan berangkat ke kampus,-dan Angga menuju sekolahnya- mataku tertuju pada sepatu sekolah Angga.Sepatu itu betul-betul sudah tidak layak pakai.Aku menarik napas sedih.
“Kenapa bang?”tanya Angga yang kini sudah duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar.Ia menatapku tajam dari balik topi merah putihnya.
Aku tersenyum dan menggeleng.Andai saja aku punya uang lebih,aku akan membelikan sepatu yang lebih baik.Tak tega rasanya aku harus melihat Angga harus
bersekolah dengan keadaan seperti itu.Angga sendiri tidak pernah mengeluh dengan keadaannya.Dia memang terlihat jauh lebih dewasa daripada anak-anak seusianya.Yah.. karena sejak kecil Angga memang terbiasa hidup susah.Dulu,Angga pernah berkelahi di sekolah gara-gara ada yang menghina baju seragamnya yang sudah sobek.Sebenarnya yang berkelahi bukan Angga,tapi Ilham,sahabat Angga yang berusaha membela Angga. Karena ingin melerai,akhirnya Angga terkena tonjokan temannya yang lain.Yang membuat hatiku kesal adalah,orang tua dari anak yang menghina Angga justru menyalahkan Angga dan Ilham (Saat itu aku dan Ibu Ilham turut dipanggil ke sekolah).Mereka memang dari keluarga kaya.Pantas saja bersikap seperti itu.Aku sempat panas hati menghadapinya.
“Angga pergi dulu..” Angga membuyarkan lamunanku.Sebelum pergi,ia menciumi kedua tanganku dan kemudian berjalan seorang diri menuju sekolahnya.Kutatap adik semata wayangku itu.Tas merahnya tercangklong seperti kupu-kupu di pundak mungilnya.Ia berjalan dengan langkah cepat,dengan sepatu yang sudah menganga di kedua ujungnya. Ah…adikku..dengan kondisi yang serba kekuranganpun kau tetap semangat menjalani kehidupanmu.Aku menelan ludah.Pahit…

Sepulang kuliah seperti biasa,teman-teman sudah berkumpul untuk membahas kelanjutan aksi menentang harga BBM selanjutnya.Tiba-tiba saja seseorang menepuk bahuku.Rio.
“Ada kabar bagus untukmu,Fan..”dia tampak sedikit terengah-engah.
Rio mengajakku untuk bicara empat mata di bawah pohon yang rindang.Ada apa gerangan?
“Kau butuh pekerjaan,kan?”dia bertanya.
Tentu saja aku mengangguk cepat.Ini dia berita yang kutunggu-tunggu.
“Datanglah besok sore ke alamat ini.Bapak Anwar wardoyo.Dia itu kenalan pamanku.Dia sedang mencari seorang tenaga instruktur komputer di lembaga pendidikannya.Aku yakin kau mampu…”
Mataku berbinar-binar.Ucapan syukur berulang-ulang keluar dari bibirku. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepada Rio.
Tanpa buang waktu lagi,aku segera berlari menuju musholla kampus. Kutunaikan sholat dhuha dua raka’at tak lupa sujud syukur atas nasib baikku hari ini.
“Fan..!” rekan-rekan aktivis memanggilku.Aku sedikit tersentak kaget.Seakan baru teringat sesuatu.Yah..rapat aksi!Aku lupa kalau sekarang mereka sedang mengadakan agenda untuk aksi nanti.

“Jadi..apa saudara Affandi bersedia memenuhi persyaratan-persyaratan dari
kami?” Pak Anwar tersenyum kepadaku sambil melipat tangannya di atas meja.
Sudah hampir dua jam aku di ”interogasi “ Pak Anwar.
Aku berpikir sejenak.Tawaran tang diberikan cukup menggembirakanTapi aku harus bekerja dari siang,sepulang kuliah hingga larut malam.Jarak dari Lembaga ini menuju rumahku lumayan jauh.Aku harus menempuh perjalanan pulang dengan dua kali naik angkot.
“Anda bisa memikirkannya dulu di rumah.Terus terang,saya merasa cocok dengan saudara Fandi.Sebenarnya Rio sudah bercerita banyak tentang kemampuan dan kejujuran anda.Tapi kali ini saya sudah jauh lebih yakin setelah bertemu langsung..”Pak Anwar kembali tersenyum.
“Baiklah Pak.Saya rasa lebih baik keputusannya saya berikan sekarang.Agar Bapak tidak menunggu-nunggu..”aku terdiam sejenak.
“Saya bersedia menerima kepercayaan Bapak..”aku tersenyum.Dalam hatiku, tergambar kegembiraan yang amat sangat.Aku sudah punya penghasilan tetap.Dan aku rasa,gaji yang ditawarkan Pak Anwar kepadaku jauh dari cukup untuk orang sepertiku.
Pak Anwar menyalamiku.Sebelumnya dia mengingatkanku untuk mengikuti training terlebih dahulu selama 2 hari.Dimulai besok.Kemudian mulai minggu depan aku sudah mulai bekerja.

Malam itu kusampaikan perihal pekerjaan baruku pada Angga.Bocah 9 tahun itu tidak banyak berkomentar mendengar penjelasanku.Malah ia lebih sibuk menyelesaikan PR matematikanya.Tapi waktu kukatakan bahwa dia akan kutinggalkan sampai larut malam,wajahnya sedikit memelas.Namun itu tidak lama begitu aku mencoba memberi pengertian padanya.
“Abang harus mengambil kesempatan ini,Angga.Kau tahu kan,bagaimana keadaan ekonomi keluarga kita.Abang harus membiayai sekolahmu,dan kuliah Abang. Belum lagi untuk biaya hidup kita sehari-hari..”
Tampaknya Angga mengerti.Aku menghela napas.Syukurlah.walaupun sebenarnya aku tidak sampai hati harus meninggalkannya untuk bekerja,tapi aku harus! Aku percaya Angga dapat mengurusi dirinya sendiri bila kutinggalkan nanti.
Aku memang berusaha terbiasa mendidik Angga untuk dapat belajar hidup susah.Karena kehidupan di luar sana keras! Terutama untuk yatim piatu seperti kami.
Tunggulah,Angga.Kalau Abang sudah punya uang nanti,akan Abang belikan kau sepatu baru..aku berkata lirih di dalam hati.

Minggu pertama aku berusaha keras beradaptasi dengan jadwal baru yang harus aku jalani.Sepulang kuliah aku harus segera bergegas menaiki angkutan kota menuju tempat kerjaku.Kadang-kadang Rio memberikan tumpangan jika kami sedang searah.Lumayan,untuk menghemat ongkos transport,katanya.Ah..Rio telah banyak membantuku selama ini.Aku berhutang budi padanya.
Kuakui jadwal baruku ini cukup mengganggu keadaan fisikku.Mungkin belum terbiasa,kilahku dalam hati.Aku capek,capek sekali!Bukan hanya stamina tubuhku yang terkuras,tapi juga otakku.Di saat-saat aku berada dalam kejenuhan,satu-satunya yang kuingat adalah Angga sebagai penguat hati.Biarlah,membanting tulang dari sekarang. Yang terpenting Angga bisa menikmati hasil keringatku.Pikiran inilah yang cukup mengobati rasa jenuh dan capek yang kerap aku rasakan.
Sampai minggu ketiga,tampaknya aku belum terbiasa juga me-manage kekuatan
Fisikku yang mengharuskan aku untuk berpacu dengan waktu dan kewajiban-kewajiban
yang ada.Dapat kurasakan kuliahku agak sedikit terbengkalai.Tapi ini bukanlah masalah besar.Aku bersyukur dikarunia otak yang cukup encer.Dengan mudah aku bisa mengatasi ketertinggalanku.Cuma perlu sedikit kerja keras.
Tapi masalah lain,muncul dari rekan-rekan sesama aktivis kampus.Mereka mulai mempertanyakan absennya aku dari agenda-agenda rutin kami.Padahal aku tergolong salah satu yang cukup aktif di organisasi.Tadi Umar mendatangiku.Panjang lebar dia bercerita bagaimana rindunya teman-teman akan kehadiranku kembali.Tak lupa dia mengingatkan komitmen-komitmen yang selama ini kami bangun bersama-sama.Aku tidak berkata banyak padanya.Hanya menitipkan salam dan permintaan maaf untuk teman-teman. Dalam hatiku sendiri aku telah memutuskan untuk berkonsentrasi di pekerjaan dan kuliahku saja.Tidak lebih.Itu saja sudah cukup banyak menyita waktuku.Tentu saja dapat kurasakan kekecewaan dari mata Umar.Terlebih saat kami berpisah.Mau bagaimana lagi.
Masalah lain muncul dari kampungku.Jama’ah surau mulai mempertanyakan absennya aku sebagai muadzin disana.Aku sering terlambat datang bahkan tidak datang sama sekali.Sudah beberapa kali aku terlambat bangun sehingga harus terburu-buru mengerjakan sholat di rumah.
Memang bukan hal yang baik.Tapi aku tetap merasa tidak bersalah.Kuserahkan tugas sebagai muadzin kepada Galih.Galih mahasiswa juga sepertiku.Ia berasal dari keluarga yang terpandang di kampung kami.Galih baik.Dan tampaknya sekarang ia cukup dekat dengan Angga.Terlebih setelah aku jarang berkumpul bersama-sama Angga di rumah.Bahkan sudah sering Angga menginap di rumah keluarga Galih yang cukup berada itu.Galih mengatakan ia tidak tega melihat Angga harus dirumah sendirian apalagi sampai larut malam.Aku tidak menolak,bahkan awalnya aku merasa senang sekali ada yang menjaga Angga.Angga tampaknya juga cukup puas dan gembira bisa menginap di kediaman keluarga Galih.Wajar saja,disana dia bisa mendapatkan kehangatan sebuah keluarga yang sudah tidak pernah ia dapatkan selama empat tahun terakhir sejak kematian Ibu dan Bapak.

Hari minggu pagi.Aku sengaja pergi diam-diam demi memberikan kejutan kecil buat Angga.Saat itu Angga ada di rumah Galih bersama anak-anak kampung kami untuk menonton Televisi.
Aku keluar dari sebuah toko sepatu dengan mata berbinar-binar.Ini adalah gaji pertamaku yang telah kudapatkan secara susah payah selama sebulan terakhir ini.Hatiku sangat bangga dan gembira.Sepasang sepatu buat Angga sudah terbungkus dengan rapi di dalam genggaman tanganku.Sebelum pulang,kusempatkan juga membeli beberapa keperluan dapur sekedarnya.Dan satu lagi,sekotak susu untuk Angga! Anak seumur Angga harus minum susu setiap hari.
Saat itu sudah siang dan kudapati rumah masih dalam keadaan sepi.Aku mengernyitkan dahi.Apa Angga belum pulang dari rumah Galih?Mau tak mau aku menjemputnya untuk segera pulang.Ada sedikit rasa kecewa di hatiku mendapati Angga tidak di rumah.Tadinya aku berharap dapat langsung menunjukkan kejutan ini padanya dan melihat ia tertawa bangga dan bahagia padaku.
“Angga!”aku memanggil Angga yang tengah asyik bermain di halaman rumah Galih.Ada 3 orang teman-teman sebayanya di temani Galih disana.Angga menolak untuk pulang.Dia masih ingin bermain.Entah mengapa tiba-tiba terbersit rasa marah dan cemburu di hatiku. Dengan paksa kutarik dia untuk segera pulang.Angga meronta-ronta.Di sebut-sebutnya nama Galih.Hatiku memanas.
Sesampai di rumah,segalanya terjadi tidak seperti yang kuharapkan.Bukannya kegembiraan yang kudapat dari Angga,dia justru tidak memperdulikan sepatu baru yang telah kuhadiahkan untuknya.Angga marah.Kotak sepatu itu ditendangnya hingga isinya berhamburan.
Tidak pernah aku semarah ini pada Angga.
“Jangan jadi anak manja,Angga!”aku membentak.Kubanting dengan kasar kantong-kantong belanjaan tadi.Pasti kehadiran Galih telah membuat Angga bersikap manja seperti ini.Aku tidak suka.Diam-diam aku merasa cemburu pada Galih. Dia telah mencuri hati Angga dariku.Angga lebih memilih bisa bersama-sama Galih. Ya! Karena Galih punya segalanya! Angga bisa belajar bahasa Inggris,bermain Komputer, menonton televisi dan banyak hal menyenangkan lainnya bersama-sama Galih.Berbeda dengan aku yang hanya bisa membelikan Angga sepatu di gaji pertamaku.
“Kalau kau ingin bersama-sama Bang Galih,pergilah! Tinggalkan saja Abang sendiri!”aku setengah berteriak.
Angga tampak tidak memperdulikanku.Dia hanya bisa menangis menghadap dinding.Aku masih menaruh rasa amarah padanya.Tidak tahu terima kasih,hatiku membatin.Susah payah aku bekerja untuknya.Tak sedikitpun ia berterima kasih.Mungkin karena aku hanya bisa memberikan kehidupan miskin padanya.Tidak seperti Galih, yang mungkin bisa meluluskan semua keinginan adikku itu.Lagi-lagi aku teringat pada Galih dan semakin panaslah hatiku.
Selama seharian itu kami saling tidak bertegur sapa.Kubiarkan saja sepatu barunya yang tergeletak ditengah-tengah ruangan.Tak ingin aku menyentuh sepatu itu.
Esok paginya aku berangkat lebih pagi.Tak kuhiraukan Angga.Sebagaimana Angga juga tidak menghiraukanku.Tampaknya ia masih takut mengajakku bicara.Aku pura-pura saja tidak peduli.Hatiku masih sakit dan kecewa.Tadi malam dapat ku dengar ia mengigau menyebut-nyebut nama Galih.

Siang itu aku baru saja hendak menaiki angkot sepulang kuliah menuju tempat kerja.Saat itulah Rio berhenti di hadapanku dan menyuruhku untuk segera naik ke motornya.
“Ada apa?”tanyaku terheran-heran.Rio tidak terlalu banyak bicara.Dia mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi.Firasat buruk mulai menghantuiku begitu aku sadar kemana arah Rio membawaku.Kami menuju rumah!
“Cepatlah,Fan…”Rio menghentikan laju motornya.Tenggorokanku terasa kering kerontang begitu melihat kearah rumahku yang sudah ramai di kunjungi orang.Satu nama yang terlintas di benakku.ANGGA!
Oang-orang mulai riuh begitu melihat kedatanganku.Aku berlari memasuki rumah.Disana Angga sudah terbaring,lengkap dengan seragam sekolahnya dan…..sepatu baru pemberianku.
“ANGGA!!”aku berteriak.Badanku terasa lemas melihat Angga yang telah terbujur kaku dengan luka-luka di tubuhnya.Sebuah mobil sedan mewah telah merenggut nyawa adikku itu.Aku menangis terguncang.Dengan sigap Rio dan Galih merangkulku. Tapi aku tidak peduli.Aku terus saja menangis.Memoriku kembali berputar-putar.
“Kalau kau ingin bersama-sama Bang Galih,pergilah! Tinggalkan saja Abang sendiri!”
Bagaikan tape recorder,dapat kudengar kembali kata-kata yang kulontarkan ke Angga semalam.Rasanya baru tadi aku mengatakan itu.Mataku kabur.Kini baru aku sadar bahwa hartaku yang sebenarnya telah pergi.Badanku berguncang hebat mencoba menahan tangis.Aku memeluk kaki Angga.Rasanya seperti di iris-iris sembilu begitu mataku tertuju kearah sepatu baru,hadiah dariku kemarin,yang masih melekat di kaki mungilnya.
Malaikat telah turun dari langit dan mengambil Angga dariku.Andai saja…andai saja aku bisa menarik gamis malaikat-malaikat itu….dan merebut kembali ruh adikku. Tentu aku masih berkesempatan mengucapkan ini,
“Maaf,Angga..hanya ini yang bisa Abang berikan untukmu.Hanya cinta dan bukan harta..”
Tapi sudah terlambat………….

1 Tanggapan »

  1. cool berkata

    Terkadang ketulusan cinta mengalahkan segalanya
    Hanya emosi sesaat yang akan membuat penyesalan selamanya
    Tidak banyak orang yang tahu bahwa dibalik segala musibah yang menyapanya
    Ada kegembiraan abadi yang tak ada ujungnya

    Seperti ucapan seorang sahabat tatkala bermimpi bertemu Atho’
    “Kulihat wajahmu sangat cerah dan bahagia, bukankah dulu di dunia kamu selalu mendapat kesulitan yang tak berkesudahan?”
    Atho’ menjawab, “Demi Allah, itu semua telah digantikan oleh Allah dengan kegembiraan dan kesenangan yang tak berkesudahan!”

    Semoga kita termasuk orang yang dianugerahi keselamatan di dunia ini
    Dan keselamatan di akhirat nanti.

    AMIN ALLAHUMMA AMIN.

Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini · URI Lacak Balik

Tinggalkan sebuah Komentar